Friday, 12 August 2011

Islam Sekularisme


PANDANGAN ISLAM TERHADAP SEKULARISME

I.                   PENGANTAR

Sekularisme, saat ini di dunia Islam bukanlah menjadi sesuatu yang asing lagi. Dapat dikatakan bahwa sekularisme kini telah menjadi bagian dari tubuhnya, atau bahkan menjadi tubuhnya itu sendiri. Ibarat sebuah virus yang menyerang tubuh manusia, dia sudah menyerang apa saja dari bagian tubuhnya itu. Bahkan yang lebih hebat, virus itu telah menghabisi seluruh tubuh inangnya dan menjelma menjadi wujud sosok baru, bak menjelma menjadi sebuah monster yang besar dan mengerikan, sehingga sudah sulit sekali dikenali wujud aslinya.
Begitulah kondisi ummat Islam saat ini dengan sekularismenya. Perkembangan sekularisme sudah seperti gurita yang telah menyebar dan membelit kemana-mana. Hampir tidak ada sisi kehidupan ummat ini yang terlepas dari cengkeramannya. Sehingga ummat sudah tidak menyadarinya lagi, atau bahkan mungkin sudah jenak dengan keberadaannya tersebut.
Akibat panjangnya rantai sekularisme dalam tubuh ummat ini, ummat Islam sudah sangat mengalami kesulitan untuk mendeteksi keberadaannya. Sehingga tidak aneh jika ada banyak dari kalangan ummat Islam yang merasa tersinggung dan marah jika dituduh sebagai sekuler atau menjalankan sekularisme dalam kehidupan pribadi atau dalam bernegara. Mereka akan menolak mentah-mentah tuduhan itu. Mereka merasa jijik dan najis dengan sekularisme itu, dan merekapun akan menolak dengan tegas jika diseru untuk menjalankan sekularisme dalam kehidupannya. Namun kenyataan yang sesungguhnya, mereka sudah berkubang dalam limbah sekularisme itu sendiri. Menyedihkan.
Hal inilah yang memprihatinkan kita semua. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis ingin membantu mengungkapkan kembali sekularisme dengan segala tubuh, tangan, kaki dan jari-jemarinya yang telah menggurita dan membelit kemana-mana. Berikutnya, penulis akan membahas sekularisme dan segenap rantai panjangnya menurut pandangan Islam.

II.                RANTAI SEKULARISME

Inti dari faham sekularisme menurut An-Nabhani (1953) adalah pemisahan agama dari kehidupan (faşlud-din ‘anil-hayah). Menurut Nasiwan (2003), sekularisme di bidang politik ditandai dengan 3 hal, yaitu: (1). Pemisahan pemerintahan dari ideologi keagamaan dan struktur eklesiatik, (2). Ekspansi pemerintah untuk mengambil fungsi pengaturan dalam bidang sosial dan ekonomi, yang semula ditangani oleh struktur keagamaan, (3). Penilaian atas kultur politik ditekankan pada alasan dan tujuan keduniaan yang tidak transenden.
Tahun yang dianggap sebagai cikal bakal munculnya sekularisme adalah 1648. Pada tahun itu telah tercapai perjanjian Westphalia. Perjanjian itu telah mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun antara Katholik dan Protestan di Eropa. Perjanjian tersebut juga telah menetapkan sistem negara merdeka yang didasarkan pada konsep kedaulatan dan menolak ketundukan pada otoritas politik Paus dan Gereja Katholik Roma (Papp, 1988). Inilah awal munculnya sekularisme. Sejak itulah aturan main kehidupan dilepaskan dari gereja yang dianggap sebagai wakil Tuhan. Asumsinya adalah bahwa negara itu sendirilah yang paling tahu kebutuhan dan kepentingan warganya, sehingga negaralah yang layak membuat aturan untuk kehidupannya. Sementara itu, Tuhan atau agama hanya diakui keberadaannya di gereja-gereja saja.
Awalnya sekularisme memang hanya berbicara hubungan antara agama dan negara. Namun dalam perkembangannya, semangat sekularisme tumbuh dan berbiak ke segala lini pemikiran kaum intelektual pada saat itu. Sekularisme menjadi bahan bakar sekaligus sumber inspirasi ke segenap kawasan pemikiran. Paling tidak ada tiga kawasan penting yang menjadi sasaran perbiakan sekularisme, sebagaimana yang akan diungkap dalam tulisan ini:
  1. Pengaruh sekularisme di bidang aqidah
Semangat sekularisme ternyata telah mendorong munculnya libelarisme dalam berfikir di segala bidang. Kaum intelektual Barat ternyata ingin sepenuhnya membuang segala sesuatu yang berbau doktrin agama (Altwajri,1997). Mereka sepenuhnya ingin mengembalikan segala sesuatunya kepada kekuatan akal manusia. Termasuk melakukan reorientasi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan hakikat manusia, hidup dan keberadaan alam semesta ini (persoalan aqidah).
Altwajri memberi contoh penentangan para pemikir Barat terhadap faham keagamaan yang paling fundamental di bidang aqidah adalah ditandai dengan munculnya berbagai aliran pemikiran seperti: pemikiran Marxisme, Eksistensialisme, Darwinisme, Freudianisme dsb., yang memisahkan diri dari ide-ide metafisik dan spiritual tertentu, termasuk gejala keagamaan. Pandangan pemikiran seperti ini akhirnya membentuk pemahaman baru berkaitan dengan hakikat manusia, alam semesta dan kehidupan ini, yang berbeda secara diametral dengan faham keagamaan yang ada. Mereka mengingkari adanya Pencipta, sekaligus tentu saja mengingkari misi utama Pencipta menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Mereka lebih suka menyusun sendiri, melogikakannya sediri, dengan kaidah-kaidah filsafat yang telah disusun dengan rapi.
  1. Pengaruh sekularisme di bidang pengaturan kehidupan
Pengaruh dari sekularisme tidak hanya berhenti pada aspek yang paling mendasar (aqidah) tersebut, tetapi terus merambah pada aspek pengaturan kehidupan lainnya dalam rangka untuk menyelesaikan segenap persoalan kehidupan yang akan mereka hadapi. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari ikrar mereka untuk membebaskan diri dari Tuhan dan aturan-aturanNya. Sebagai contoh sederhana yang dapat dikemukakan penulis adalah:
    1. Di bidang pemerintahan
Dalam bidang pemerintahan, yang dianggap sebagai pelopor pemikiran modern dalam bidang politik adalah Niccola Machiavelli, yang menganggap bahwa nilai-nilai tertinggi adalah yang berhubungan dengan kehidupan dunia dan dipersempit menjadi nilai kemasyhuran, kemegahan dan kekuasaan belaka. Agama hanya diperlukan sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang dikandung agama itu sendiri (Nasiwan, 2003). Disamping itu muncul pula para pemikir demokrasi seperti John Locke, Montesquieu dll. yang mempunyai pandangan bahwa pemerintahan yang baik adalah pemerintahan konstitusional yang mampu membatasi dan membagi kekuasaan sementara dari mayoritas, yang dapat melindungi kebebasan segenap individu-individu rakyatnya. Pandangan ini kemudian melahirkan tradisi pemikiran politik liberal, yaitu sistem politik yang melindungi kebebasan individu dan kelompok, yang didalamnya terdapat ruang bagi masyarakat sipil dan ruang privat yang independen dan terlepas dari kontrol negara (Widodo, 2004). Konsep demokrasi itu kemudian dirumuskan dengan sangat sederhana dan mudah oleh Presiden AS Abraham Lincoln dalam pidatonya tahun 1863 sebagai: “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” (Roberts & Lovecy, 1984).
b.      Di bidang ekonomi
Dalam bidang ekonomi, mucul tokoh besarnya seperti Adam Smith, yang menyusun teori ekonominya berangkat dari pandangannya terhadap hakikat manusia. Smith memandang bahwa manusia memiliki sifat serakah, egoistis dan mementingkan diri sendiri. Smith menganggap bahwa sifat-sifat manusia seperti ini tidak negatif, tetapi justru sangat positif, karena akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Smith berpendapat bahwa sifat egoistis manusia ini tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat sepanjang ada persaingan bebas. Setiap orang yang menginginkan laba dalam jangka panjang (artinya serakah), tidak akan menaikkan harga di atas tingkat harga pasar (Deliarnov, 1997).
c.       Di bidang sosiologi
Dalam bidang sosiologi, muncul pemikir besarnya seperti Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim dsb. Sosiologi ingin berangangkat untuk memahami bagaimana masyarakat bisa berfungsi dan mengapa orang-orang mau menerima kontrol masyarakat. Sosiologi juga harus bisa menjelaskan perubahan sosial, fungsi-fungsi sosial dan tempat individu di dalamnya (Osborne & Loon, 1999). Dari sosiologi inilah diharapkan peran manusia dalam melakukan rekayasa sosial dapat lebih mudah dan leluasa untuk dilakukan, ketimbang harus ‘pasrah’ dengan apa yang dianggap oleh kaum agamawan sebagai ‘ketentuan-ketentuan’ Tuhan.
d.      Di bidang pengamalan agama
Dalam pengamalan agama-pun ada prinsip sekularisme yang amat terkenal yaitu faham pluralisme agama yang memiliki tiga pilar utama (Audi, 2002), yaitu: prinsip kebebasan, yaitu negara harus memperbolehkan pengamalan agama apapun (dalam batasan-batasan tertentu); prinsip kesetaraan, yaitu negara tidak boleh memberikan pilihan suatu agama tertentu atas pihak lain; prinsip netralitas, yaitu negara harus menghindarkan diri pada suka atau tidak suka pada agama.
Dari prinsip pluralisme agama inilah muncul pandangan bahwa semua agama harus dipandang sama, memiliki kedudukan yang sama, namun hanya boleh mewujud dalam area yang paling pribagi, yaitu dalam kehidupan privat dari pemeluk-pemeluknya.
3.      Pengaruh sekularisme di bidang akademik
Di bidang akademik, kerangka keilmuan yang berkembang di Barat mengacu sepenuhnya pada prinsip-prinsip sekularisme. Hal itu paling tidak dapat dilihat dari kategorisasi filsafat yang mereka kembangkan yang mencakup tiga pilar utama pembahasan, yaitu (Suriasumantri, 1987): filsafat ilmu, yaitu pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan benar atau salah; filsafat etika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan baik atau buruk; filsafat estetika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan indah atau jelek.
Jika kita mengacu pada tiga pilar utama yang dicakup dalam pembahasan filsafat tersebut, maka kita dapat memahami bahwa sumber-sumber ilmu pengetahuan hanya didapatkan dari akal manusia, bukan dari agama, karena agama hanya didudukkan sebagai bahan pembahasan dalam lingkup moral dan hanya layak untuk berbicara baik atau buruk (etika), dan bukan pembahasan ilmiah (benar atau salah).
Dari prinsip dasar inilah ilmu pengetahuan terus berkembang dengan berbagai kaidah metodologi ilmiahnya yang semakin mapan dan tersusun rapi, untuk menghasilkan produk-produk ilmu pengetahuan yang lebih maju. Dengan prinsip ilmiah ini pula, pandangan-pandangan dasar berkaitan dengan aqidah maupun pengaturan kehidupan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas, semakin berkembang, kokoh dan tak terbantahkan karena telah terbungkus dengan kedok ilmiah tersebut.
Dari seluruh uraian singkat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sekularisme telah hadir di dunia ini sebagai sebuah sosok alternatif yang menggantikan sepenuhnya peran Tuhan dan aturan Tuhan di dunia ini. Hampir tidak ada sudut kehidupan yang masih menyisakan peran Tuhan di dalamnya, selain tersungkur di sudut hati yang paling pribadi dari para pemeluk-peluknya yang masih setia mempertahankannya. Entah mampu bertahan sampai berapa lama?

III.             UMMAT ISLAM DAN SEKULARISME

Perkembangan sekularisme di Barat ternyata tidak hanya berhenti di tanah kelahirannya saja, tetapi terus berkembang dan disebarluaskan ke seantero dunia, termasuk di dunia Islam. Seiring dengan proses penjajahan yang mereka lakukan ide-ide sekularisme terus ditancapkan dan diajarkan kepada generasi muda Islam. Hasilnya sungguh luar biasa, begitu negeri-negeri Islam mempunyai kesempatan untuk memerdekakan diri, bentuk negara dan pemerintahan yang di bangun ummat Islam sepenuhnya mengacu pada prinsip sekularisme dengan segala turunannya. Mulai dari pengaturan pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, termasuk tentunya adalah dalam pengembangan model pendidikannya. Boleh dikatakan hampir tidak ada satupun bagian dari penataan negeri ini yang terbebas dari prinsip sekularisme tersebut.
Bahkan di garda terakhir, yaitu di lembaga pendidikan formal Islam di dunia Islam-pun tidak luput dari serangan sekularisme tersebut. Pada awalnya (di Indonesia tahun 1970-an), pembicaraan mengenai penelitian agama, yaitu menjadikan agama (lebih khusus adalah agama Islam) sebagai obyek penelitian adalah suatu hal yang masih dianggap tabu (Mudzhar, 1998). Namun jika kita menengok perkembangannya, khususnya yang meyangkut metodologi penelitiannya, maka akan kita saksikan bahwa agama Islam benar-benar telah menjadi sasaran obyek studi dan penelitian. Agama telah didudukkan sebagai gejala budaya dan gejala sosial. Penelitian agama akan melihat agama sebagai gejala budaya dan penelitian keagamaan akan melihat agama sebagai gejala sosial (Mudzhar, 1998).
Jika obyek penelitian agama dan keagamaan hanya memberikan porsi agama sebatas pada aspek budaya dan aspek sosialnya saja, maka perangkat metodologi penelitiannya tidak berbeda dari perangkat metodologi penelitian sosial sebagaimana yang ada dalam episthemologi ilmu sosial dalam sistem pendidikan sekuler. Dengan demikian ilmu yang dihasilkannya-pun tidak jauh berbeda dengan ilmu sosial lainnya, kecuali sebatas obyek penelitiannya saja yang berbeda yaitu: agama!
Dengan demikian, semakin lengkaplah peran sekularisme untuk memasukkan peran agama dalam peti matinya. Oleh karena itu tidak perlu heran, jika kita menyaksikan di sebuah negara yang mayoritas penduduknya muslim, peran agama (Islam) sama sekali tidak boleh nampak dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara riil, kecuali hanya sebatas spirit moral bagi pelaku penyelenggara negara, sebagaimana yang diajarkan oleh sekularisme.
Ummat Islam akhirnya memiliki standar junjungan baru yang lebih dianggap mulia ketimbang standar-standar yang telah ditetapkan oleh Al Qr’an dan As Sunnah. Ummat lebih suka mengukur segala kebaikan dan keburukan berdasarkan pada nilai-nilai demokrasi, HAM, pasar bebas, pluralisme, kebebasan, kesetaraan dll. yang kandungan nilainya banyak bertabrakan dengan Islam.

IV.             PANDANGAN ISLAM TERHADAP SEKULARISME
Jika sebuah ide telah menjadi sebuah raksasa yang menggurita, maka tentunya akan sangat sulit untuk melepaskan belenggu tersebut darinya. Terlebih lagi ummat Islam sudah sangat suka dan jenak dengan tata kehidupan yang sangat sekularistik tersebut. Dan sebaliknya, mereka justru sangat khawatir dan takut jika penataan negara ini harus diatur dengan syari’at Islam. Mereka khawatir, syari’at Islam adalah pilihan yang tidak tepat untuk kondisi masyarakat nasional dan internasional saat ini, yang sudah semakin maju, modern, majemuk dan pluralis. Mereka khawatir, munculnya syari’at Islam justru akan menimbulkan konflik baru, terjadinya disintegrasi, pelanggaran HAM, dan mengganggu keharmonisan kehidupan antar ummat beragama yang selama ini telah tertata dan terbina dengan baik (menurut mereka).
Untuk dapat menjawab persoalan ini, marilah kita kembalikan satu-per satu masalah ini  pada bagaimana pandangan Al Qur’an terhadap prinsip-prinsip sekularisme di atas, mulai dari yang paling mendasar, kemudian turunan-turunannya. Kita mulai dari firman Allah dalam Q.S. Al Insan: 2-4:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya dengan jalan yang lurus, ada yang bersyukur ada pula yang kafir”
“Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala”

Ayat-ayat di atas memberitahu dengan jelas kepada manusia, mulai dari siapa sesungguhnya Pencipta manusia, kemudian untuk apa Pencipta menciptakan manusia hidup di dunia ini. Hakikat hidup manusia di dunia ini tidak lain adalah untuk menerima ujian dari Allah SWT, berupa perintah dan larangan. Allah juga memberi tahu bahwa datangnya petunjuk dari Allah untuk hidup manusia bukanlah pilihan bebas manusia (sebagaimana prinsip HAM), yang boleh diambil, boleh juga tidak. Akan tetapi, merupakan kewajiban asasi manusia (KAM), sebab jika manusia menolaknya (kafir) maka Allah SWT telah menyiapkan siksaan yang sangat berat di akherat kelak untuk kaum kafir tersebut.
Selanjutnya, bagi mereka yang berpendapat bahwa jalan menuju kepada petunjuk Tuhan itu boleh berbeda dan boleh dari agama mana saja (yang penting tujuan sama), sebagaimana yang diajarkan dalam prinsip pluralisme agama di atas, maka hal itu telah disinggung oleh Allah dalam firmanNya Q.S. Ali ‘Imran: 19 & 85:
“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam”
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dan di akhirat kelak dia termasuk orang-orang yang merugi (masuk neraka)”.

Walaupun Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan yang diridhai, namun ada penegasan dari Allah SWT, bahwa tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqarah: 256:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah”.

Jika Islam harus menjadi satu-satunya agama pilihan, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, sejauh mana manusia harus melaksanakan agama Islam tersebut? Allah SWT memberitahu kepada manusia, khususnya yang telah beriman untuk mengambil Islam secara menyeluruh. Firman Allah SWT, dalam Q.S. Al Baqoroh: 208:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnaya setan itu musuh yang nyata bagimu”.

Perintah untuk masuk Islam secara keseluruhan juga bukan merupakan pilihan bebas, sebab ada ancaman dari Allah SWT, jika kita mengambil Al Qur’an secara setengah-setengah. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqoroh: 85:
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar kepada sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak akan lengah dari apa yang kamu perbuat”.

Walaupun penjelasan Allah dari ayat-ayat di atas telah gamblang, namun masih ada kalangan ummat Islam yang berpendapat bahwa kewajiban untuk terikat kepada Islam tetap hanya sebatas persoalan individu dan pribadi, bukan persoalan hubungan antar manusia dalam bermasyarakat dan bernegara. Untuk menjawab persoalan itu ada banyak ayat yang telah menjelaskan hal itu, di antaranya Q.S. Al Maidah: 48:
“Maka hukumkanlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka (dengan meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepada engkau”.

Perintah tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan juga berfungsi untuk mengatur dan menyelesaikan perkara yang terjadi di antara manusia. Dan dari ayat ini juga dapat diambil kesimpulan tentang keharusan adanya pihak yang mengatur, yaitu penguasa negara yang bertugas menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal itu diperkuat dalam Q.S. An Nissa’: 59:
“Hai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Selain itu juga ada pembatasan dari Allah SWT, bahwa yang berhak untuk membuat hukum hanyalah Allah SWT.  Manusia sama sekali tidak diberi hak oleh Allah untuk membuat hukum, tidak sebagaimana yang diajarkan dalam prinsip demokrasi. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al An’am: 57:

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”.

Oleh karena itu tugas manusia di dunia hanyalah untuk mengamalkan apa-apa yang telah Allah turunkan kepadanya, baik itu menyangkut urusan ibadah, akhlaq, pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan dsb. Jika manusia termasuk penguasa enggan untuk menerapkan hukum-hukum Allah, maka ada ancaman yang keras dari Allah SWT, diantaranya, firman Allah dalam Q.S. Al Maidah: 44, 45 dan 47:
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (44). … orang yang zalim (45). … orang yang fasik (47)”.

Terhadap mereka yang terlalu khawatir terhadap dengan diterapkannya syari’at Islam, dan menganggap akan membahayakan kehidupan ini, maka cukuplah adanya jaminan dari firman Allah SWT dalam Q.S. Al Anbiya’: 107:
“Dan tiadalah Kami mengutusmu kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Ayat tersebut menerangkan bahwa munculnya rahmat itu karena diutusnya Nabi (yang membawa Islam), bukan yang sebalikya, yaitu setiap yang nampaknya mengandung maslahat itu pasti sesuai dengan Islam. Dengan demikian jika ummat manusia ingin mendapatkan rahmat dari Tuhannya, tidak bisa tidak melainkan hanya dengan menerapkan dan mengamalkan syari’at Islam. Selain itu, ayat tersebut juga menegaskan bahwa rahmat tersebut juga berlaku untuk muslim, non muslim maupun seluruh semesta alam ini. Insya Allah. Wallu a’lam bishshawab.

DAFTAR RUJUKAN


Al-Qur’anul Karim.

Altwajri, Ahmed O., 1997. Islam, Barat dan Kebebasan Akademis. Titian Ilahi Press. Jogjakarta.

Audi, Robert, 2002. Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal. Terj: Yusdani & Aden Wijdan. PSI UII & UII Press. Yogyakarta.

Deliarnov, 1997, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Rajawali Press, Jakarta.

Mudzhar, M. Atho, 1998, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet. II.

An-Nabhani, Taqyuddin, 1953, Nizamul-Islam, Daarul Ummah, Beirut, Libanon, Cet. V.

Nasiwan, 2003. Diskursus antara Islam dan Negara – Suatu Kajian Tentang Islam Politik di Indonesia. Yayasan Insan Cita Kalimantan Barat. Pontianak.

Osborne, Richard & Borin Van Loon, 1999. Mengenal Sosiologi – For Beginners. Terj. Siti Kusumawati A. Mizan. Bandung.

Papp, S. Daniel, 1988. Contemporary International Relations - Frameworks fo Understanding. Macmillan Publishing Company, New York. Coller Macmillan Publishing, London.

Robert, Geoffrey & Jill Lovecy, 1984. West European Politics Today. Manchester Univesity Press, New Hampshire, USA.

Suriasumantri, Jujun S. 1987. Filsafat Ilmu – Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Widodo, Bambang E. C., 2004. Demokrasi antara Konsep dan Realita. Makalah Diskusi Publik HTI. 29 Pebruari 2004. Jogjakarta.

Alamat email: al-waie@al-islam.or.id.

ulum hadith- Imam al -Bukhari


1.O      PENDAHULUAN
1.1.      Latar belakang
Al – Bukhari adalah Seorang periwayat hadith yang terkenal. Keturunannya bersambung dengan keturunan al-Mughirah, seorang mawla ( bukan Arab ) dalam Suku Ju’fi ( Yaman )Gabenor Bukhara. Beliau telah mengunjungi banyak negeri untuk menuntut ilmu hadith . Antara negeri-negeri yang dikunjungi beliau ialah Khurasan, Mesir dan negeri-negeri diantara Khurasan dan Mesir.Beliau telah berguru dengan lebih seribu orang Syeikh.Seterusnya tinggal di Kampung Khartank, sebuah negeri yang terletak tidak jauh dari Samarkand.
Nama Imam Bukhari yang sebenar ialah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Beliau berketurunan Parsi dan dilahirkan pada hari Jumaat, 13 Syawal tahun 194 Hijrah bersamaan dengan 21 hb. Julai 810 Masihi di Bukhara.
            Imam Bukhari terkenal dengan gelaran al-Bukhari kerana dinisbahkan kepada Daerah kelahirannya di Bukhara. Beliau wafat pada malam sabtu selepas solat isyak, iaitu pada malam Hari Raya Fitri, 30 Ramadan 256 Hijrah bersamaan 31 hb. Ogos 870 Masihi di Kampung Khartank, salah sebuah Kampung di dalam Daerah Samarkand, Bukhara ketika beliau berusia 62 tahun. Jenazah beliau telah dimakamkan di sana selepas solat zohor pada hari Raya pertama. Pada ketika jenazah beliau hendak di letakkan ke dalam liang lahad, tiba-tiba dengan kehendak Allah swt ,berlaku suatu keajaiban dimana tanah di situ tiba-tiba berbau wangi dengan haruman kasturi selama beberapa hari.
            Bapa Imam al-Bukhari merupakan seorang Ahli Hadith yang menimba ilmu hadith daripada ulama- ulama terkenal seperti ; Malik bin Anas dan Ibn al-Mubarak. Bapa beliau telah meninggal dunia ketika beliau masih kanak-kanak lagi.Menurut Abu Syahbah dalam kitabnya, A’lam al-Muhaddithin, menyatakan bahawa Imam Bukhari dilahirkan dalam keadaan buta. Namun, berkat doa yang tidak putus-putus oleh ibunya yang merupakan seorang wanita yang salih ,akhirnya Allah swt mengkabulkannya. Maka , dengan kehendak Allah juga, Imam Bukhari dapat melihat dunia.
            Imam Bukhari amat bertuah kerana dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang baik, beriman, salih dan ibunya sentiasa memastikan beliau mendapat makanan yang halal dan bersih dari syubhah mahu pun haram. Ibunya telah menyusukannya sendiri serta mendidik beliau dengan ketaqwaan.Pada tahun 210 Hijrah,beliau bersama-sama dengan ibu dan abangnya, yang bernama Ahmad telah pergi  ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan selepas mengerjakan ibadah tersebut ibu dan abangnya pulang dan meninggalkan beliau untuk mendalami ilmu hadith di sana.
            Selama berada di Makkah dan Madinah , Imam Bukhari menimba ilmu hadith, dan mengarang sebuah kitab iaitu Jami’ al-Sahih. Selanjutnya, pada usianya 18 tahun beliau telah mampu menulis sebuah kitab iaitu Qadaya al-Sahabah wa al-Tabi’in. Beliau juga menulis Kitab al-Tarikh yang penulisannya dilakukan di sisi maqam Nabi Muhammad s.a.w di Madinah di bawah cahaya bulan.
            Dilihat dari segi keperibadiannya, beliau merupakan seorang yang warak, zuhud, salih serta berperwatakan lemah – lembut. Beliau memiliki jiwa yang halus dan mengamalkan sikap tawadduk apabila berbicara dengan masyarakat tanpa mengira pangkat mahu pun darjat mereka. Beliau adalah seorang ulama mujtahid. Beliau sentiasa mempraktikkan apa yang beliau ucapkan.
            Selain dari menguasai ilmu – ilmu Islam, Imam Bukhari juga berminat dengan aktiviti riadah seperti sukan memanah. Beliau bukan sahaja mementingkan ilmu pengetahuan, malah sentiasa menjaga kesihatan mental dan fizikal melalui bersukan. Dikatakan bahawa beliau berkemahiran dalam sukan memanah ini dan sentiasa tepat panahan yang beliau lepaskan. Menurut sahabat beliau, Warraq yang selalu menemani beliau memanah, mengatakan bahawa hanya dua kali sahaja Imam Bukhari tidak tepat sasarannya.[2]
            Apabila menelusuri rutin dan aktiviti disepanjang perjalanan hidup tokoh ini,kehidupan beliau penuh dengan ibadah sehingga dikatakan bahawa Imam Bukhari dan sahabat-sahabatnya berkumpul pada setiap malam awal bulan Ramadan, dan melakukan solat berjemaah yang diimami oleh beliau sendiri. Imam Bukhari  akan membaca 20 ayat pada setiap rakaat sehingga khatam al-Qur’an di dalam solatnya. Beliau amat mencintai kalamullah dan sering mendampingi al-Qur’an.Pada waktu sahur pula,beliau akan membaca sepertiga atau setengah daripada keseluruhan surah al-Qur’an sehingga beliau dapat mengkhatamkan al-Qur’an pada setiap tiga malam berikutnya, dan beliau akan mengkhatamkan al-Qur’an pada siang harinya.Pada waktu sahur juga, beliau akan mendirikan solat sebanyak 13 rakaat. Beliau juga sentiasa melakukan qiamulail pada setiap malam.
1.2       Pendidikan
Imam Bukhari telah dikurniakan kecerdikan akal dan kepintaran yang luar biasa kecerdasannya. Beliau dapat mengingati serta mudah untuk memahami dengan cepat sesuatu ilmu yang didengarinya. Beliau mula mempelajari ilmu hadith ketika berumur 11 tahun serta telah memanfaatkan umur beliau dengan mendalami ilmu hadith dan ilmu-ilmu lain selama 5 tahun di Basrah.
            Semasa beliau berumur 16 tahun, beliau dikatakan mampu dan dapat menghafaz sebuah Kitab karangan Ibn al-Mubarak dan al-Waqi’.Malah, beliau juga mampu berhadapan dengan guru beliau dan berhujah dengannya. Dalam hal ini, beliau sendiri pernah berkata: “ Saya diberi ilham oleh Allah untuk menghafaz hadith – hadith ”.
            Imam Bukhari menetap di Hijjaz selama 6 tahun dan berkunjung ke Baghdad, Basrah dan Kufah sebanyak 8 kali. Selain itu, beliau telah mengembara ke seluruh pelusuk negeri dan tempat semata-mata menjejaki dan bertemu sendiri dengan perawi hadith. Oleh yang demikian, beliau dapat mendalami ilmu hadith dan mengumpulkan hadith daripada lebih 1000 orang guru dan mempelajari hadith selama lebih kurang 16 tahun.
Dari segi tahap penguasaan ilmu hadith, dikatakan bahawa Imam Bukhari mampu mengingati sejuta buah hadith lengkap dengan matan dan sanad yang sempurna.Beliau juga dapat membezakan antara hadith yang sahih atau pun tidak. Beliau juga telah meriwayat hadith daripada lebih 90 000 perawi dan tidak pernah timbul sikap putus asa dalam mempelajari ilmu hadith.Imam Bukhari mahir dalam ilmu Sanad dan ilmu ‘Illat ( kecacatan hadith ).
            Menurut fakta sejarah, Abu Abbas al-Baghdadi menceritakan daripada Ahmad bin ‘Adi al- Hafiz, bahawa pada suatu ketika para Ahli hadith di Baghdad telah berkumpul untuk menguji Imam Bukhari. Mereka telah bertanyakan kepada beliau 100 hadith yang diubah dan ditukarkan matan dan sanadnya dengan meletakkan hadith tersebut tidak teratur dan bercampur-aduk diantara sanad dan matannya. Sementara, sejumlah 100 hadith dibahagikan kepada sepuluh orang ulama hadith beserta 10 hadith setiap orang.Seorang demi seorang membentangkan hadith sehinggalah selesai kepada 100 buah hadith yang telah diubah dibentangkan oleh ulama tersebut.
            Namun begitu, Imam Bukhari dapat membetulkan semula dengan mengemukakan matan hadith kepada sanad yang betul serta mengembalikan sanadnya kepada matan yang betul. Hal ini, telah membuatkan hadirin terkejut dan begitu kagum dengan kemampuan luar biasa Imam al-Bukhari. Oleh demikian, para ulama pada ketika itu mengakui bahawa Imam Bukhari memang memiliki hafalan yang kuat serta mahir dalam ilmu hadith .
1.3       Guru-Guru Imam Bukhari
            Imam Bukhari di dalam pencarian ilmunya, telah berjumpa dengan ramai guru, antaranya ; Ibrahim bin Hamzah al-Zubairi, Ibrahim bin al-Munzir al-Khuzami,Ahmad bin Hanbal, Ahmad bin Abi at- Tayyib al-Marwazi, Abi an- Nadhar Ishaq bin Ibrahim al-Faradisi, Ishaq bin Rawahi, Tsabit bin Muhammad as- Saibani az-Zahidi, Ja’far bin Abdullah as-Silmi al-Baikhi, Abil Yaman al-Hikami bin Nafi’, Khalid bin Mukhalid, Abi Ashim ad-Bihaq bin Mukhalid, Thalaq bin Ghanam an- Nakha’i, Said bin al-Hikam bin Abi Maryam, Said bin Sulaiman al-Wasithi, Sulaiman bin Harb, Ali bin Al-Madini, Abi Naim al-Fadhli bin Dakin, Kubaishah bin Uqbah, Kutaibah bin Said , Qais bin Hafz ad-Darimi, Muhammad bin Ashabah ad-Daulabi, Abi Tsabit Muhammad bin Ubaidillah al-Madini, Muhammad bin Fadhli as- Sadusi, Muhammad bin Yusuf al-Faryabi, Ibrahim al- Barkhi, Abi Salma Musa bin Ismail Atabawwazuki, Naim bin Hamad al-Marwazi, Abil Walid Hisyam bin Abdil Muluk at- Thayarusi, Yahya bin Abdillah bin Bakir, Yahya bin Mu’in, dan masih banyak lagi dinyatakan dalam Kitab al-Jamik as-Sahih.


1.4       Murid-Murid Imam Bukhari
Imam Bukhari adalah ilmuan hadith yang mempunyai banyak pengikut, diantara murid-muridnya ialah ; at-Tirmizi, Ibrahim bin Ishak al-Harbi, Ibarahim bin Ma’qol an-Nasafi, Ibrahim bin Musa al-Jauzi, Abul Abbas bin Ahmad bin Muhammad bin al-Azhar al-Azhari an- Naisaburi, Ishak bin Ahmad bin Zairaq al –Farisi, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Sadaqah al – Baghdadi, Abu Amru Ahmad bin Nasr Ibnu Ibrahim al-Khafaf an-Naisaburi, Ishak bin Dawud as-Sofi at-Tastari, Ja’far bin Muhammad al-Qattan, Husain bin Ismail al-Muhamili, Abu Yahya Zakaria bin Yahya al-Bazzas, Abdullah bin Musa an – Naisaburi al – Hafizi,Ja’far bin Muhammad al – Qattan, Husain bin  Ismail al-Muhamili, Abu Yahya Zakaria bin Yahya al – Bazzas,Abdullah bin Ahmad bin Abdus Salam al-Khafaf an- Naisaburi, , Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunia, Abdullah bin Abdur Rahman bin al-Asqar al-Qadi al-Bashari, Abdullah bin Muhammad bin Najiah al-Baghdadi, Abu Zar’ah Ubaidillah Ibnu Abdil Karimar Razi, Abu Ma’shar al-Fadhli bin Ahmad bin Ya’kub bin AsyRas ad-Dabbi an-Nasafi al-A’ma al-Hafiz, Al-Fadhli bin Al-Abbasi ar-Razi al-Hafiz ( dikenali dengan Bi Fadhli ), Abu Ahmad Muhammad bin Sulaiman bin Faris, Muhammad bin Sahl al-Mukri al-Fasawi, Muhammad bin Abdullah bin al-Junaid, Muhammad Ibnu Yusuf al-Farbawi, Muslim dan al-Hujjaz serta Abu Thaha Mansur bin Muhammad Ibnu Ali an-Nasafi.
1.5       Karya – Karya Imam Bukhari
Imam Bukhari telah meninggalkan warisan ilmu yang banyak kepada kita, malah menjadi panduan kepada umat Islam seluruhnya.Antara karya-karya beliau yang terkenal ialah Kitab Sahih Al-Bukhari atau judul lengkapnya iaitu al-Jamik al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min umur Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi. Beliau memperuntukkan masa selama 16 tahun bagi menyempurnakan penulisan kitab tersebut.
            Selain itu, Imam Bukhari telah mengarang banyak Kitab , diantaranya ialah ; Qadhaya al-Shahabah wa al-Tabiin, Raf al-Adyan, Qiraat Khaf al-Imam, Khalq Af’al al-Ibad, al-Tafsir al-Kabir, Al-Musnad al-Kabir, Tarikh Shaghir, Tarikh Ausat, Tarikh Kabir, Al – Adab al-Mufrad, Birr al-Walidaini, Al-Dhuafa, Al-Jamik al-Kabir, Al-Asyribah, Al-Hibah, Asamik as-Shahabah,Al-Wuhdan,Al-Mabsuth, Al-Ilal, Al-Kuna dan Al-Fawaid.

1.6       Kecintaan Terhadap Ilmu
Imam Bukhari amat mencintai ilmu-ilmu hadith serta ilmu-ilmu hikmah. Beliau juga adalah seorang yang sangat beradab terhadap ilmu.Menurut Said Bakar bin Munir bin Khalid bin Askar beliau berkata : “ Suatu hari Amir Khalid bin Ahmad , seorang wali Bukhara diutus kepada Muhammad bin Ismail agar beliau membawa dua buah kitab iaitu Kitab al-Jamik dan at-Tarikh dan membawanya kepada wali tersebut.Namun, Muhammad bin Ismail berkata kepadanya : “Saya tidak akan mencela ilmu dan saya tidak akan membawanya menuju ke pintu-pintu rumah orang, apabila engkau mempunyai hajat, maka datanglah ke majlisku atau ke rumahku. Kalau sekiranya ini mengejutkanmu maka engkau sebagai Penguasa berhak melarangku dari majlis yang kuadakan sehingga pada hari kiamat kelak, hal itu menjadi tanggungjawabku.”
            Imam Bukhari berkata : “ Aku tidak akan menyembunyikan ilmu sesuai dengan sabda Nabi yang bermaksud : Sesiapa yang ditanya tentang ilmu kemudian dia menyembunyikannya maka dia akan diseksa dengan api neraka. ”
1.7       Ijtihad Imam Bukhari
Menurut kesepakatan para ulamak,mengatakan bahawa Imam Bukhari merupakan salah seorang ahli fiqih dan pakar ijtihad. Ahmad bin Sayar menyebutkan di dalam Kitab Tarikh Marwi : Muhammad bin Ismail adalah orang yang suka mencari ilmu, bergaul dengan masyarakat, mengembara mencari ilmu hadith, mempunyai ingatan yang kuat, dan seorang yang fiqih. Seterusnya, Muhammad al-Masandi berkata : “Muhammad bin Ismail adalah seorang Imam atau contoh ikutan, maka barangsiapa yang tidak menjadikannya imam maka tercelalah orang tersebut.”
Selanjutnya pula, Ad –Darimi berkata : “Aku telah melihat para ulamak di Haramain, Hijaz, Syam, dan Iraq, tetapi aku tidak melihat ulamak seperti Muhammad bin Ismail, beliau adalah orang yang lebih faqih dari kamu dan orang yang lebih banyak dalam menuntut ilmu.”


1.8       Sanjungan  Ulamak Terhadap Imam Bukhari
            Berkat ketulusan hati Imam Bukhari dalam menuntut ilmu telah mengangkat beliau menjadi seorang yang mulia dan terpuji, bukan sahaja di mata masyarakat , malah mendapat perhatian pada pandangan ulamak terkemuka.. Beliau disanjung oleh para ulamak, yang amat menggakumi keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada beliau. Antaranya ialah Abu Sahal as-Syafii berkata : “ Aku telah memasuki negeri Basrah , Syam, Hijaz dan Kufah, dan aku dapati di sana para ulamak yang kesemuanya telah memuji Muhammad bin Ismail”.Seterusnya, Ahmad bin Hanbal, berkata : “ Para Penghafaz hadith dari penduduk Khurasan iaitu Abu Zar’ah ar-Razi, Muhammad bin Ismail al –Bukhari , Abdullah bin Abdur Rahman as-Samarkandi dan Hasan bin Syujak al-Balkhi.”Beliau menambah lagi : “Aku tidak akan dapati seseorang di negeri Khurasan seperti Muhammad bin Ismail al-Bukhari.”
            Abu Said Hatim bin Muhammad bin Hazim berkata : “Aku mendengar Musa bin Harun al-Hamali berkata kepadaku : “Kalaulah sekiranya kaum muslimin itu berkumpul maka mereka akan mengikuti  jejak Muhammad bin Ismail.”











2.0       HURAIAN KITAB SAHIH BUKHARI DARI PELBAGAI SUDUT
2.1       Pengertian Sahih al -  Bukhari
‘Sahih Bukhari’ adalah nama ringkasan bagi tajuk buku asal karangan beliau, iaitu Kitab al-Jami’al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah s.a.w wa Sunnah wa Ayyamih.
     Tajuk yang dipilih membawa maksud yang tersendiri. Al-Jami’ beerti kumpulan lengkap hadith Rasulullah yang merangkumi semua bidang keperluan hidup umat Islam. Al-Sahih pula beerti majoriti hadith yang terdapat di dalam karangan beliau merupakan hadith-hadith yang sahih. Al- Musnad beerti hadith-hadith karangan Imam Bukhari mempunyai sanadnya yang bersambung hingga kepada sahabat yang merawikan sesuatu hadith sama ada dalam bentuk pertuturan, perlakuan dan pengakuan. Maksud di akhir nama kitab ini adalah menunjukkkan bahawa hadith ini adalah disampaikan oleh Rasulullah s.a.w di sepanjang hidupnya.
2.2       Metod Penulisan
Permulaan kepada penghasilan sebuah kitab sahih tercetus ketika Imam Bukhari bersama-sama Ishaq bin Rawaih,tiba-tiba memberi cadangan kepada beliau, katanya : “ Apa kata kalau kamu mengumpulkan secara ringkas hadith-hadith Sahih Nabi s.a.w ”. Selepas mendengar cadangan Ishaq bin Rawaih, maka tergeraklah hati beliau untuk melaksanakan pengumpulan hadith-hadith melalui Kitab al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah s.a.w wa Sunanih wa Ayyamih, yang lebih dikenali dengan  Sahih al-Bukhari.
            Matlamat kepada sesuatu penulisan ialah untuk mewujudkan sebuah kitab Sahih dan istinbat serta ijtihad hukum- hakam yang tercatat di dalam sesebuah hadith. Beliau menyusun Kitabnya berpandukan kepada beberapa topik yang dikenali sebagai ; Kitab, dan di dalam setiap huraian kitab itu ada tajuk-tajuk kecil yang dikenali sebagai : Bab.
            Di dalam Sahih al-Bukhari dinyatakan bahawa terdapat 97 Kitab dan 340 Bab. Antara nama Kitab yang ada di dalam Sahihnya ialah ; Kitab Bad’ al-Wahy, Kitab al-Iman, Kitab al-‘llm, Kitab al-Wudu’, Kitab al-Salah, Kitab al-Jumu’ah, Kitab al-Jana’iz, Kitab al-Zakah, Kitab al-Sawm, Kitab al-Jihad, Kitab al-Tafsir dan Kitab al-Nikah.
            Bagi setiap Kitab yang beliau tulis, beliau akan memulai dengan nas al-Qur’an, hadith, fatwa, sahabat, serta Tabi’in untuk menerangkan topik tersebut dan juga sebagai dalil serta hujah. Sementara, bagi setiap hadith yang diperolehi oleh Imam Bukhari diteliti dengan baik sama ada dari segi perawi serta rangkaian sanadnya meliputi semua aspek. Bagi memastikan kesahihan sesebuah kitab, Imam Bukhari akan membersihkan dirinya terlebih dahulu, berwuduk dan melakukan solat sunat istikharah dua rakaat dan selanjutnya memohon petunjuk daripada Allah s.w.t.
Terdapat beberapa garis panduan yang telah ditetapkan oleh Imam Bukhari bagi memastikan kesahihan bagi setiap hadithnya seperti; memastikan sanadnya bersambung, perawinya bersifat adil, thiqah dan memenuhi kriteria –kriteria hadith maqbul, perawi  hadith mempunyai ingatan yang baik dan penjagaan hadith riwayatnya baik dari sudut tulisan atau hafalan ( dhabit ), beliau akan berjumpa sendiri dengan perawi tersebut dan melihat peribadinya dan beliau akan menolak mana-mana hadith yang mana perawinya, tidak beramal dengan hadith.
            Hadith yang terdapat di dalam sahihnya adalah berasal dari 600,000 buah hadith yang telah dihafalnya. Selepas Imam Bukhari menyiapkan Kitabnya, beliau menyerahkan kitab sahihnya kepada beberapa orang ulamak muktabar bagi tujuan penyemakkan dan penelitian untuk mengesahkan kesahihannya. Bagi tujuan itu, beliau telah merujuk kitabnya kepada Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini serta Imam Ahmad bin Hanbal.
            Di dalam kitab sahihnya, beliau telah memasukkan sebanyak 9082 buah hadith termasuk hadith yang berulang. Sementara, jumlah ini tidak termasuk hadith Mawquf Sahabat dan Maqtu’ Tabi’in serta yang selepas mereka. Dicatatkan bahawa jumlah perawi hadith dalam kitabnya ialah 90,000 orang .Kandungan hadith dapat dikelaskan kepada beberapa kumpulan seperti :
v  Sejumlah 6397 buah hadith sahih termasuk hadith yang diriwayatkan secara berulang,
v  Sebanyak 2602 buah hadith yang bersambung sanad telah diriwayatkan secara tidak berulang,
v  Sebanyak 1341 buah hadith Mu’allaq Marfu’ yang disambung rangkaian sanadnya di tempat lain dalam sahihnya,
v  Sebanyak 22 buah hadith Thulathiyyat Asanid iaitu merujuk kepada bilangan perawi diantara Imam Bukhari dan Rasulullah s.a.w. hanya 3 orang perawi sahaja.
Bagi menjelaskan mengapa berlaku pengulangan hadith pula, adalah disebabkab beberapa tujuan iaitu ; Hadith yang sama tetapi terdapat hukum yang lain di dalamnya, hukum lain perlu dimasukkan di dalam pecahan kitab dan bab yang lain, hukum yang diistinbatkan perlu diselaraskan dengan hadith walaupun diulangi dengan hadith yang sebelumnya, serta hadith yang sama, tetapi rangkaian sanad berbeza.
2.3       Karya Ulasan dan Huraian al - Sahih Bukhari
            Antara beberapa karya ulasan dan huraian bagi Kitab Sahih Bukhari termasuklah ; A’lam al – Sunan ( karya Imam Abu Sulaiman al-Khattabi al-Busti ), al- Talwih fi Syarh al-Jami’ al-Sahih ( karya Imam Hafiz ‘Ala’ al-Din Mughaltai al- Turki al-Misri al- Hanafi ), al-Kawakib al-Darari ( Karya Syams al – Din al- Kirmani ), Syawahid al- Tawdih ( karya Ibn al-Mulqan al – Syafi’i –murid kepada Mughaltai al- Turki al- Misri ), Umdah al – Qari ( karya  Badr al – Din Mahmud bin Ahmad al – ‘Aini al – Hanafi ),Fath al – Bari ( Ibn Hajar al – ‘Asqalani ) dan Irsyad al – Sari ( Karya Ahmad bin Ahmad al-Qastalani ).
2.4       Karya Ikhtisar Sahih al –Bukhari
            Karya – karya ikhtisar terdiri daripada tiga buah kitab iaitu ; Ikhtisar Jami’ al –Bukhari   ( karya Ahmad bin Umar al- Ansari Abu al – ‘Abbas al – Qurtubi ), Irsyad al – Sami’ wa al – Qari ila al – Muntaqa min Sahih al – Bukhari ( Karya Badr al –Din Hasan bin Umar bin Hubaib al – Halabi ) dan al – Tajrid al – Sarih li Ahadith al – Jami’ al – Sahih ( karya al – Zabidi ).
2.5       Karya Berkaitan Sahih al - Bukhari
            Antara karya-karya yang berkaitan dengan kitab Sahih Bukhari adalah ; al – Ifham bi ma Waqa’ fi al- Bukhari min al – Ibham ( karya Jalal al – Din al – Balqini ), Rijal al- Bukhari , judul kitabnya iaitu al – Hidayah wa al – Irsyad fi Ma’rifah Ahl al Thiqah wa al – Saddad ( karya al – Kalabadhi ) serta al – Jam’ baina Rijal al – Sahihain ( karya Ibn al – Qaisarani ).     



3.0       KELEBIHAN DAN KEISTIMEWAAN KITAB SAHIH al- BUKHARI BERBANDING
KITAB – KITAB HADITH LAIN
Kitab Sahih Bukhari adalah sebuah kitab yang sangat dikenali oleh majoriti umat Islam, terutamanya bagi pencinta- pencinta hadith yang meminati untuk mengkaji hadith. Di dalam kitab ini hanya dimuatkan hadith – hadith sahih sahaja. Kitab ini mendapat pengakuan dan pujian daripada para ulama yang meletakkan kitab ini di tahap kedua sumber ilmu Islam selepas al- Qur’an. Kitab ini mengandungi paling banyak dan sangat tepat dalam pengumpulan hadith-hadith sahih berbanding dengan kitab-kitab sebelumnya yang masih lagi bercampur – aduk dengan hadith-hadith pelbagai martabat.
            Kitab sahih al –Bukhari merupakan tapisan daripada 600, 000 hadith yang dijalankan dalam masa 16 tahun. Dari sudut penulisnya iaitu Imam Bukhari sendiri adalah seorang yang memiliki kemampuan hafalan yang hebat dan tepat. Beliau amat beradap terhadap ilmu, sehinggakan penulisan yang dibuat ke atas Kitab sahih ini hanya dilakukan selepas membersihkan diri dengan melaksanakan solat 2 rakaat. Dilihat dari gaya persembahan penulisan kitab ini, menunjukkan suatu susunan yang mantap dan mencakupi semua topik penting dan dasar dalam Islam yang meliputi ; Aqidah, Fiqh, Akhlak , Muamalat, Sirah,. Tafsir, Manaqib dan sebagainya.
            Kekuatan kitab sahih Bukhari ialah kerana isi kandungan atau mesej yang ingin disampaikan di dalamnya didokong oleh nas-nas al- Qur’an yang bersifat qat’i yang memperkukuhkan kebenaran hadit-hadith tersebut.Imam Bukhari bukan sahaja memasukkan nas dan hadith, malah turut mengemukakan fatwa sahabat, tabi’in dan  yang selepasnya dimana ia selaras dengan hadith yang beliau tulis berpandukan topik yang berkaitan.
            Seterusnya, kelebihan kitab ini ialah pengarangnya sendiri, mampu melakukan ijtihad dan sememangnya,beliau amat dikenali, malah mendapat gelaran ulamak sezamannya sebagai seorang yang faqih dan mujtahid. Perawi-perawi yang yang dikatakan sejumlah puluhan ribu itu adalah diantara mereka yang thiqah serta diperakui oleh ulama sezamannya.

            Antara guru – guru Imam Bukhari yang telah meriwayatkan hadith kepadanya ialah ; Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Yahya al – Tamimi, Muhammad bin Abdullah al – Ansari serta Abdullah bin Musa. Manakala antara para ulama yang meriwayatkan hadith daripadanya adalah seperti ; Imam al – Tirmidhi, Imam Muslim serta Saleh bin Muhammad al –Asad.
4.0       PENUTUP
Imam Bukhari adalah seorang ilmuan hadith yang terkenal di kalangan ahli – ahli hadith pada zamannya sehinggalah pada masa kini namanya masih disebut-sebut oleh para ulamak kerana sumbangannya mengarang sebuah hadith yang menjadi rujukan umat islam.Beliau dianugerahkan oleh Allah dengan kelebihan iaitu mempunyai ingatan yang kuat, benar, warak, serta bersifat lemah – lembut dengan masyarakat pada zamannya. Beliau telah  dilahirkan dalam keluarga yang salih serta mendapat didikan yang baik oleh ibunya. Ibunya sentiasa memelihara sumber makanan dan minuman yang diberikannya kepada Imam Bukhari . Kesannya ,telah menjadikan Imam Bukhari seorang yang bertaqwa dan memiliki kejernihan hati. Dengan itu, Imam Bukhari menjadi seorang yang hafiz dan mampu menguasai ilmu hadith pada usia yang muda dan seterusnya mengarang kitab hadith iaitu Kitab Sahih Bukhari.
 Beliau bukan sahaja merupakan seorang pengarang dan pengkaji ilmu agama, malah adalah seorang guru yang mengajar di Bukhara. Beliau telah dilahirkan di dalam keadaan buta, namun berkat doa ibunya, akhirnya beliau dapat melihat semula. Beliau berperanan sebagai orang yang menyambung perjuangan Nabi Muhammad s.a.w dimana beliau telah menghidupkan amalan-amalan sunnah Nabi melalui karangan kitabnya yang mengandungi hadith-hadith sahih sebagai rujukan kedua Umat Islam selepas al- Qur’an.
Beliau telah menjadi pencetus kepada lahirnya ilmuan-ilmuan hadith selepasnya, misalnya Imam Muslim yang sangat mengkagumi Imam Bukhari dan menjadikannya sebagai contoh ikutannya. Imam Muslim juga menyusun sebuah kitab Hadith yang dinamakan Kitab Sahih Muslim. Beliau selalu berkunjung ke majlis ilmu Imam Bukhari, dan berkata ; “Tuan biarkan sahaja aku mencium kedua kaki tuan, wahai ahli hadith yang mengerti mengenai kecacatan hadith dan juga Penghulu sekalian ahli hadith”. Begitulah pengakuan Imam Muslim terhadap Imam Bukhari yang bukan sahaja berilmu, tetapi amat disanjung tinggi oleh umat Islam dari pelbagai kedudukan. Imam Bukhari merupakan seorang tokoh periwayat hadith yang sentiasa berdampingan dengan al- Qur’an sehingga memperuntukkan banyak waktu semata-mata untuk membaca Kalamullah ini.
Mudah – mudahan dengan keikhlasan beliau dalam menyebarkan hadith – hadith kepada umat islam melalui karangannya, akan mendapat ganjaran di sisi Allah sebagai ilmu yang bermanfaat. Dalam pada itu, dengan pengkajian terhadap tokoh ini, mudah - mudahan dapat mencetuskan keinginan untuk meneliti apa yang terkandung di dalam kitab sahih Bukhari bagi menumbuhkan rasa cinta terhadap Nabi Muhammad s.a.w dan seterusnya mengamalkan sunnahnya dalam  kehidupan sebagai muslim sejati.















5.0       BIBLIOGRAFI
Terjemahan Hadis Sahih Bukhari, Jilid 1,2,3, 1998, Kuala Lumpur : Victory Agencie
Mahayudin  Hj Yahaya,Ensiklopedia Sejarah Islam, Jilid 1, Kuala Lumpur :
Universiti Kebangsaan Malaysia.
Prof. Madya Dr Ariffin Omar & H. M Yusuf Sinaga Lc. 2005. Biografi Ulamak – Ulamak
            Hadith. Johor Bharu : Perniagaan Jahabersa.
Dr. Rosmawati Ali @ Mat Zin .2005. Pengantar Ulum Hadith Edisi Kedua .Kuala Lumpur :
            Pustaka Salam.




Aqidah Islamiyyah- Beriman Kepada Allah

1.0              PENDAHULUAN
1.1 Lafaz Allah
Lafaz Allah adalah nama Allah yang paling Agung dan mencakupi nama – nama Allah yang lainnya, sehingga sebahagian ulama berkata, “ Sesungguhnya lafaz Allah adalah nama Allah yang paling agung dan paling mencakupi nama – nama Allah yang lainnya dan tidak ada seorang pun selain Dia dinamakan dengan nama ini. Oleh demikian, lafaz Allah tidak dijadikan tasyniyah dan tidak pula dijadikan jamak. Lafaz Allah merupakan salah satu dari dua penakwilan terhadap firman Allah Ta’ala, iaitu  yang bermaksud ,“ Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia ( yang patut disembah ) ? ( Qs. Maryam 19 : 65 ). Yakni Dzat yang dinamai dengan nama – Nya iaitu nama Allah.
Lantaran itu, lafaz Allah adalah nama bagi Al Maujud [ Yang Maha Ada ], Yang Haq, yang menghimpun seluruh sifat – sifat Ilahiyah [ Ketuhanan ], yang disifati dengan sifat – sifat  Rububiyah [ Pemeliharaan ], yang sendiri dalam wujud yang hakiki, yang tidak ada Tuhan yang Haq selain Dia. Menurut pendapat lain, makna dari lafaz Samiyya  ( nama ) yang ada dalam firman Allah tersebut adalah Dzat yang berhak untuk disembah. Menurut pendapat yang lain,maksudnya adalah Dzat yang wajib adanya , yang sentiasa ada dan tidak pernah tiada.[1]
1.2  Ta’rif  Iman
            Ahli sunnah wal jamaah sepakat menyatakan Iman ialah membenarkan dengan hati , beramal dengan anggota badan dan berkata dengan lidah ( mengakui dengan lidah ). Menurut Imam Syafei rahimahullahi Taala menyatakan di dalam kitabnya Al –Umm bahawa para sahabat dan tabi’in telah ijma’ mengatakan : “ Sesungguhnya iman itu ialah perkataan ( membenarkan dengan lidah ), dan perbuatan ( mengerjakan  dengan anggota badan , dan niat ( membenarkan ) dengan hati. Dan tidak memadai satu daripada tiga perkara yang lain.Menurut Ahli Sunnah Waljamaah, sesiapa yang mengikrarkan dengan lidah dan mengucap dua kalimah syahadah bererti mereka telah melaksanakan hukum di dunia ini, dan seterusnya dituntut melakukan perkara – perkara yang wajib dikerjakan oleh orang – orang yang beriman. Mereka diberikan haknya selaku orang yang beriman dengan kenikmatan syurga dan tidak kekal di dalam neraka serta tidak dihukumkan sebagai kafir, melainkan jika mereka membatalkan keimanan mereka melalui pengakuan lidah dan amalan perbuatan mereka.[2]

1.3  Makna kalimah tauhid
Kalimah tauhid ‘La ilaha illallah’ bermaksud tiada Tuhan selain Allah. Sungguhpun ringkas, namun kalimah ini mempunyai pengertian yang luas dan mendalam bagi kehidupan seorang muslim. Kalimah ini sebenarnya bererti ‘aku mengetahui, berikrar, mengakui dan mempercayai bahawa sesungguhnya sembahan yang benar dan berhak disembah ialah Allah SWT sahaja manakala selain daripada-Nya sama sekali tidak benar dan tidak berhak disembah. Aku berikrar dengan hatiku, menyatakan dengan lidahku dan aku membuktikan dengan perbuatanku.’
1.4  Awal Agama Mengenal Allah
Firman Allah , dalam hadith Qudsi:                                                                    
“ Aku adalah ‘ kanzan Makhfiyyan ’ ( yang terpendam dan tertutup ). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan Makhluk agar mereka mengenalku. ”
            Awal agama ialah mengenal Allah , sementara awal mengenal Allah adalah mengenal diri  ( arifbillah ); “ Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka mengenal ia akan Tuhannya. Siapa yang mengenal Allah, maka binasalah ( fana ) dirinya.”
Firman Allah ; “ Dan ( juga ) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ?”
                                                                                                                ( Qs Adz – Dzariyat : 21 )  Firman Allah di atas adalah sebagai anak kunci kepada  satu pintu rahsia dalam rahsia. Hanya Allah wajibal wujud dan Dia wujud pada DzatNya. Berbanding dengan wujud makhluk yang wujud bukan pada dzatnya tetapi wujud kerana diwujudkan oleh Dzat yang Maha Wujud iaitu Allah s.w.t. Setiap makhluk yang diwujudkan oleh Allah adalah untuk menzahirkan sifat keagungan dan kebesaranNya. Sekalian makhluk termasuk manusia adalah menunjukkan ayat – ayat Allah untuk menggambarkan DiriNya yang bersifat Maha Sempurna .
            Hakikat sebenar yang wujud tanpa berhajat kepada wujud yang lain adalah Allah. Wujud sekalian makhluk dan alam adalah dalam keadaan yang sentiasa berhajat kepada wujud Allah , ia wujud mumkinat , antara harus ada dan tiada. Wujud makhluk diibaratkan seperti bayang – bayang, ia tiada wujud dengan dirinya sendiri. Apabila tiada tuan punya bayang – bayang , maka bayang – bayang tidak akan wujud. Namun, tuan punya bayang – bayang tetap akan wujud walaupun tiada bayang. Segala ciptaan Allah adalah bayang atau bekas bagi menunjukkan kewujudanNya , sifatNya, Asma’Nya dan Af’ alNya. Maka, tiada berpisah segala ciptaanNya dengan diriNya dan tidak pula bersatu denganNya.
            Dengan adanya sifat Allah, manusia dapat melihat, mendengar, berkata – kata, berfikir, hidup dan berkehendak. Manakala Af’al Allah iaitu Allah telah perzahirkan segala ilmu dan kehendaknya untuk menunjukkan sifatNya bagi makhluk tentang diriNya.Oleh yang demikian, segala perjalanan dan segala sistem yang mengatur alam ini ( asbab dan musabab), berlaku taqdir baik dan buruk sama ada pada langit dan bumi, zahir atau ghaib,  sebenarnya berada di dalam Qabdah , iaitu genggaman Ar – Rahman. Seluruhnya bergerak atas kalimah ‘ Bismillahirrahmanirrahim’.
            Selain itu, Imam al – Sirhindi telah menjelaskan dengan ulasan yang panjang di dalam Al-Maktubat 1 : 266 ).Beliau berkata :
“ Dan begitu juga dengan Perbuatan Ilahi adalah Esa dan seluruh ciptaan terjadi dengan perbuatan yang Esa ini dan firman Allah s.w.t yang bermaksud : “ Dan perintah Kami     ( dalam melaksanakan apa yang Kami kehendaki ), hanyalah sekali sahaja , bagi sekelip mata ( Qs. Al Qamar : 50 )” mengisyaratkannya. Menghidupkan dan mematikan , menyakitkan dan memberi ni’mat, begitu juga menjadikan dan meniadakan muncul dari perbuatan yang satu ini. Maka tiadalah keterbilangan Ta’alluq Perbuatan-Nya, bahkan setiap makhluk dahulu dan akan datang wujud pada waktu – waktunya yang khusus dangan Ta’alluq yang satu. Dan Ta’alluq ini pun tidak diketahui caranya dan perumpamaannya sebagaimana Perbuatan Ilahi itu sendiri. .. Lantaran Al- Ash’ari tidak melihat hakikat perbuatan Ilahi yang Maha Agung Kekuasaan-Nya berpendapat bahawa sifat Takwin adalah baharu dan baharunya Perbuatan –Perbuatan Ilahi sedangkan dia tidak menyedari bahawa sesungguhnya kejadian – kejadian alam ini adalah kesan perbuatan Ilahi yang azali dan bukan perbuatan itu sendiri . Termasuk juga di sini sebahagian sufi yang mengithbatkan  ( alam mumkin sebagai ) tajalli al af’al  ( perbuatan – perbuatan Ilahi ) kerana mereka tidak menyaksikan pada cermin perbuatan makhluk yang mumkin selain dari perbuatan Pelaku Hakiki Yang Maha Agung kekuasaan-Nya, sedangkan Tajalli itu sebenarnya adalah tajalli kesan- kesan Perbuatan Allah s.w.t bukannya tajalli Perbuatan-Nya s.w.t., kerana sesungguhnya , Perbuatan Ilahi Yang Maha Suci dari perumpamaan dan cara serta qadim dan berdiri dengan Zat-Nya s.w.t. yang disebut sebagai Takwin tidak dapat diliputi oleh ‘cermin – cermin’ makhluk yang baharu dan tiada kenyataan baginya pada wadah – wadah penzahiran alam mumkin.” 
2.0       PEMBAHAGIAN  TAUHID
Beriman kepada Allah azza wajalla ialah beri’tikad dengan yakin di dalam hati bahawa Allah ialah “ Rabb ” yang memiliki dan mencipta segala – galanya yang begitu indah dan menabjubkan diibadatkan dengan ikhlas seperti melakukan solat, puasa, doa, mengharap rahmatNya, takut kepada AzabNya, menyerah diri kepadaNya dan Dialah Tuhan yang bersifat dengan segala sifat sempurna serta suci dari segala kelemahan. Beriman kepada Allah mengandungi tiga bahagian tauhid, iaitu tauhid Rububiyah , tauhid Uluhiyah serta tauhid Asma’ dan sifat.
Menurut  Ustaz Abu Karimah Askari  pada awalnya tauhid di bahagi menjadi 2 bahagian, iaitu Tauhid Al Ma’rifat wal Itsbat (Pengenalan dan Penetapan) yang terdiri daripada  2 tauhid iaitu:
  • Tauhid Rububiyah iaitu mengenal Allah melalui perbuatan-Nya.
  • Tauhid Asma wa Sifat iaitu mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya.
Tauhid Al Irodi Ath Tholabi ialah tauhid yang diinginkan dan dituntut, disebut juga tauhid uluhiyah.Ianya terjadi penyimpangan keyakinan di dalam nama dan sifat Allah, maka Tauhid Asma wa Sifat disebutkan secara khusus sehingga Tauhid dibahagi kepada 3 bahagian iaitu ; Tauhid Rububiyyah, tauhid Uluhiyyah dan juga tauhid Asma’ wa sifat.
2.1 Tauhid Rububiyyah

Mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya, seperti mencipta, menguasai, memberikan rezeki, mengurusi makhluk, dan lain-lain lagi yang semuanya hanya Allah sahaja yang mampu mengadakannya dan semua orang meyakini adanya Rabb yang menciptakan, menguasai dan sebagainya melainkan orang atheis yang berkeyakinan tidak adanya Rabb. Antara pengertian kalimah Rabb ialah as-Sayyid (Tuan), al-Malik (Yang Memiliki sesuatu), Pencipta sesuatu, Penguasa terhadap sesuatu, Pendidik serta Pengasuh makhluk-Nya, Penjaga maslahat makhluk-Nya serta Penguatkuasa perintah-Nya terhadap makhluk-Nya.
Oleh itu, Tauhid ar-Rububiyyah ialah ‘iktiqad atau keyakinan bahawa Allah SWT mempunyai sifat yang sempurna. Segala sesuatu yang ada di alam ini adalah kepunyaan Allah SWT. Dialah Rabb al-’Alamin (Rabb sekalian alam). Dialah yang berkuasa, menjadikan, menghidup dan mematikan. Dia berkuasa memberikan manfaat dan mudarat. Jika Allah mahu memberikan manfaat dan kelebihan kepada seseorang, maka tiada siapa mampu menghalang atau menolaknya. Jika Allah mahu memberikan mudarat dan keburukan kepada seseorang seperti sakit dan susah, maka tiada siapa dapat menghalang atau mencegahnya. Oleh itu, hanya Allah sahaja ‘mutafarriq’ (berkuasa) untuk memberikan manfaat atau mudarat.
Firman Allah SWT yang bermaksud:
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tiada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”                        (Qs. Al-An’am: 17)
Dengan itu, semua makhluk bergantung kepada-Nya, memerlukan pertolongan-Nya serta berharap kepada-Nya. Setiap sesuatu yang dimiliki makhluk hanya bersifat sementara dan pinjaman. Oleh itu, jika manusia bersifat seperti memiliki dan berkuasa, maka sifat itu hanya sementara kerana segala sesuatu di alam ini adalah kepunyaan Allah. Begitu juga dengan kecerdikan, kebijaksanaan dan kepandaian yang dimiliki manusia, semuanya datang daripada Allah. Segala kekayaan dan penguasaan manusia sebenarnya bukanlah miliknya yang mutlak tetapi datang daripada Allah .
 Ini kerana hakikat sebenarnya ialah manusia dijadikan hanya sebagai makhluk. Dia tidak memiliki apa-apa melainkan setiap kuasa, tindak-tanduk serta gerak nafasnya datang daripada Allah. Dengan keyakinan itu, maka timbullah kesan tauhid dalam diri seorang muslim. Dia hanya takut kepada Allah dan berani untuk bertindak melakukan sesuatu juga kerana keyakinannya kepada Allah. Kesan keyakinan sedemikian terbukti dalam kehidupan Rasulullah s.a.w dan sahabatnya. Sebelum keluar berhijrah ke Madinah, Rasulullah s.a.w memerintahkan Saidina Ali r.a tidur di atas katilnya sedangkan ketika itu musuh Islam sedang mengintip untuk membunuh Rasulullah s.a.w. Bagaimanapun, Saidina Ali r.a sanggup mengikut perintah Rasulullah s.a.w kerana amat yakin dengan kehendak dan kekuasaan Allah.
Keyakinan yang sama juga pernah berlaku dan dapat dilihat pada Khalid al-Walid r.a. Beliau pernah mendapat luka yang banyak kerana berperang di jalan Allah. Namun keyakinannya dengan kekuasaan Allah menyebabkan dia meneruskan pertempuran melawan musuh. Saidina Bilal bin Rabah r.a pula sanggup diheret di padang pasir, dijemur di bawah matahari yang terik serta diseksa dengan batu besar diletakkan di atas tubuhnya. Bagaimanapun dia tetap mempertahankan keimanannya.

2.2 Tauhid Uluhiyah

Mentauhidkan Allah dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh hamba seperti mengikhlaskan ibadah kepada Allah, yang mencakupi berbagai macam ibadah termasuklah tawakal, nadzar, takut, khosyah dan pengharapan. Tauhid inilah yang membezakan umat Islam dengan kaum musyrikin. Dengan demikian, seseorang belum cukup untuk mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya (Tauhid Rububiyah) tanpa menyertainya dengan mengikhlaskan semua ibadah hanya kepada-Nya (Tauhid Uluhiyah). Bahkan orang musyrikin dulu juga meyakini bahwa Allah yang mencipta dan mengatur alam, tetapi hal tersebut belum cukup memasukkan mereka ke dalam Islam.Tauhid al-Uluhiyah bermaksud mentauhidkan Allah dalam peribadatan atau persembahan. Inilah tujuan Allah SWT mengutuskan rasul iaitu menyeru manusia menerima Tauhid al-Uluhiyah. Firman Allah SWT yang berikut membuktikan kenyataan ini.
“Dan Kami tidak mengutuskan seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahawasa-nya tiada tuhan melainkan Aku, maka kamu sekalian hendaklah menyembah Aku.”                                                                                        ( Qs.Al-Anbiya’: 25)
“Dan sesungguhnya Kami telah utuskan pada setiap umat itu seorang rasul (untuk menyeru): Sembahlah Allah dan jauhilah taghut.”                                                            (Qs An-Nahl: 36)
            Makna beriman dengan ketiga – tiga bahagian tauhid itu ialah mengi’tiqadkan keesaan Allah Taala pada Rububiyyah, Uluhiyyah dan sifat – sifatNya yang sempurna serta nama – namanya yang mulia.Seorang hamba tidak menjadi mukmin sehingga ia i’tiqad bahawa Allah  adalah tuannya, pembela dan pemimpin bagi segala sesuatu bukan yang lain. Dialah Tuhan yang berhak disembah, bukan selainNya.Dialah Tuhan yang Maha sempurna pada sifat dan pada namaNya. Tidak ada sesuatu pun yang sempurna melainkan Allah.
2.3 Beriman dengan Kewujudan Allah
            Iman adalah suatu ikatan yang tersimpul kuat dan kukuh di dalam hati seorang manusia yang menjadi tali penghubung antara Khaliq dan makhluk. Keimanan yang sebenarnya ialah suatu luahan hati yang lahir dari ketulusan sanubari seorang insan terhadap Tuhannya serta kesediaannya untuk mencintai Rabbnya melebihi kecintaannya kepada makhluk lain.Mereka yang beriman dengan kewujudan Allah ialah mereka yang mengiktiqadkan Allah dengan suatu iktikad yang jazam ( pasti ) di atas beberapa hal termasuklah;
a.       Mengiktikadkan bahawa Allah Taala sahaja yang menjadikan alam ini berserta seisinya dan beriktikad bahawa Allah mengurus mentadbir segala sistem alam ini dengan seimbang dan bijaksana.  ( Dalil Al –Qur’an dalam surah al – A’raaf :54 )
b.      Mengiktikadkan bahawa Allah s.w.t. adalah berhak dipuji dan Dialah yang paling berhak menerima segala pujian daripada orang – orang beriman. Firman Allah Taala, Ertinya : “ Segala puji tertentu bagi Allah , Tuhan yang memelihara dan mentadbir seluruh alam ”                                                                        
                                                                                                      ( Qs. Al –Fatihah : 2 )
c.       Mengiktikad bahawa petunjuk Allah adalah sebenar – benar  petunjuk dan hidayah. Orang – orang beriman wajib bertawakkal kepada Allah serta melaksanakan segala perintahNya.Firman Allah Taala, ertinya : “Katakanlah : Wahai Muhammad ! Sesungguhnya petunjuk Allah itulah sebenar – benar petunjuk , dan kita diperintahkan supaya berserah diri kepada Tuhan yang memelihara dan mentadbir alam.”                   ( Surah al – An’am : 71 )
d.      Mengiktikad bahawa semua ibadat yang dilakukan adalah ikhlas kerana Allah sebagai tanda pengabdian diri kepadaNya untuk mencapai keredhaan dan kasih sayangNya.Firman Allah , Ertinya : “ Katakanlah: wahai Muhammad ! Sesungguhnya sembahyangku dan ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah , Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam.”
                                                                                     ( Qs. al – An’aam : 162 )
e.       Mengiktikad bahawa Allah Taala yang memberi pertolongan kepada semua makhluk di alam ini dalam semua perkara dan tidak ada yang lain, melainkan Allah. Mengakui bahawa tidak ada sesiapa yang boleh memberi pertolongan tanpa izinNya.
 ( Dalil Al – Qur’an dalam Surah al – An’aam : 14  & Al – Baqarah 255 )
f.       Mengiktikadkan bahawa setiap orang yang beriman hendaklah berdoa dan memohon sesuatu hajat hanya kepada Allah Taala sahaja, tidak kepada yang lain daripadaNya. Sesuai dengan firman Allah yang menghendaki supaya hamba – hambaNya sentiasa memohon sesuatu daripadaNya, kerana Dia pasti akan mengkabulkan doa daripada hamba – hambaNya . Firmannya bermaksud: “ Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan ( dengan suara ) perlahan – perlahan. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas.”                                                                         ( Qs. al – A’raaf : 55 )
g.      Mengiktikadkan bahawa Allah yang mencipta manusia , mengetahui perkara – perkara yang tersembunyi dalam hati manusia , dan sebaliknya manusia tidak dapat berselindung dari Allah. Firman Allah, ertinya: “ Dan demi sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang pengetahuan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. ”                                          ( Qs. Qaf : 16 )
h.      Mengiktikadkan bahawa Allah mengutus seorang Rasul kepada setiap umat dengan tujuan mengajak dan menyeru sekalian manusia menyembah Allah, bukan selain dariNya.                                        ( Dalil Al –Qur’an Surah an – Nahl : 36 )
i.        Mengiktikadkan bahawa tidak ada walau satu makhluk pun yang dapat memberi manfaat dan tidak boleh mendatangkan sebarang mudarat dengan izin Allah , dan  makhluk tidak boleh disembah dan dipuja.   ( Dalil Al-Qur’an Surah Yunus : 106 )
j.        Mengiktikadkan bahawa Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukanNya dengan sesuatu. Firman Allah s.w.t. :
ErtiNya; “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang mempersekutukanNya dengan sesuatu  ( apa jua pun ) , dan akan mengampunkan yang lain dari kesalahan  ( syirik ) itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya ( Menurut  peraturan hukumNya) dan sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu ( apa jua )maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan  yang sejauh – jauhnya. ( Qs. An-Nisa’: 116 )                                                                                                                     
k.      Mengiktikadkan bahawa Allah s.w.t. bersifat dengan sifat kesempurnaan, dan suci dari sifat kekurangan , keaiban, kebinasaan, dan Maha Suci Allah  dari sifat – sifat yang menyamai sifat – sifat makhluk. Allah telah menegaskan mengenai hal ini dalam firmanNya, bermaksud ; “ Tiada sesuatu pun yang sebanding denganNya  ( dengan zat Allah , sifatNya, dan pentadbiranNya ) dan Dialah yang amat mendengar, lagi amat melihat .”
                                                                                                                      ( Qs. Syuara : 11 )                                                    
l.        Mengiktikadkan bahawa Dzat Allah dan Asma’Nya dan juga sifatNya yang dinyatakan di dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah s.a.w tidak boleh dikurangi, ditambah , ditukar , diganti, dinafikan dan diingkari, kerana Dzat dan juga sifatNya yang qadim tidak sama dengan sifat makhluk yang huduth ( baharu ). Firman Allah seperti dalam surah as – Syuara : 11 .
                 Beriman kepada Allah termasuklah meyakini bahawa iradah ( kehendak ) Allah ada dua jenis iaitu iradah kauniyah beerti segala yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi, namun tidak semestinya perkara tersebut dicintai-Nya. Ia disebutkan sebagai masyi’ah. Allah telah membuktikannya di dalam firmannya, yang bermaksud:
“ Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh – bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki –Nya.”                                      ( Qs. al- Baqarah : 253 )
                 Manakala, iradah syar’iyah bermaksud apa yang dikehendaki oleh Allah kepada hambanya , yang keadaannya tidak semestinya berlaku , tetapi apa yang dikehendaki-Nya ini adalah sesuatu yang dicintai-Nya.Sesuai dengan firmanNya yang bermaksud :
“ Dan Allah hendak menerima taubatmu”                                       ( Qs. an – Nisa : 27 )
2.4 Tauhid Asma Wa Sifat

            Menurut Imam al – Baihaqi yang menuliskan mengenai pembahagian Asma’ul Husna, didalam bukunya, ‘ Al – Asma’ wa as- Sifat’ ,Abu Abdullah al – Husain al – Hasan al – Hulaimi pernah mengatakan bahawa setiap muslim yang beriman wajib meyakini perkara - perkara berikut ; Mengisbatkan ( sentiasa mengakui ) Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna serta tidak menafikan mana – mana sifat Allah itu, mengisbatkan Keesaan Allah supaya suci dan bebas dari syirik, mengisbatkan Allah bukan benda dan bukan sifat, mengisbatkan makhluk adalah ciptaan Allah dan Dia mencipta sekalian makhluk bukan dengan alat serta mengisbatkan Dia mentadbir apa yang dicipta-Nya . Makhluk tidak ditadbir oleh selain Allah.
 Secara lebih terperinci, tauhid asma wa sifat ialah beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya menurut apa yang sesuai bagi Allah s.w.t, tanpa ta’wil dan ta’thil(menafikan), tanpa takyif (mempersoalkan) dan tamtsil (menyerupakan). Boleh juga dikatakan bahawa tauhid ini adalah beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma ul-husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya. Umat Islam mengenal 99 asma ul-husna yang merupakan nama dan sifat Allah.Firman Allah
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”                                                                                            (Qs.  Asy-Syura 42:11)
Allah s.w.t menafikan jika ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh Rasul-Nya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menjelaskannya, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada Rasul-Nya.
Tauhid asma dan sifat adalah pernyataan ikrar bahawa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui keadaan segala sesuatu, Maha Kuasa, sesungguhnya Dia Maha Hidup, Dia tidak tidur dan tidak lupa. Dia Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Kasih, Dia Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Memelihara dan Maha Perkasa. Maha Suci Allah daripada apa-apa yang disamakan dengan-Nya.Tauhid ini belum cukup untuk memastikan seseorang itu menjadi seorang Muslim, bahkan mesti disertai dengan tauhid rububiyah iaitu peng-Esaan Allah dalam pengaturan dan tauhid uluhiyah iaitu peng-Esaan Allah dalam ketuhanan.
 Secara ringkasnya, beriman dengan kewujudan Allah adalah bermakna  beriman dengan rububiyahnya, beriman dengan uluhiyahnya dan beriman dengan asma dan sifat – sifatNya. Kewujudan Allah tiada permulaan dan tiada pengakhiran kerana  sesuai dengan Dzatnya yang Qadim dan baqa’.Firman Allah , yang bermaksud;
“ Dialah ( Allah ) yang awal dan yang akhir, dan yang zahir, serta yang batin, dan Dialah yang amat mengetahui akan tiap – tiap sesuatu. ”                                            ( Qs. al – Hadid : 3 )
3.0  KAEDAH GOLONGAN SALAF DALAM MENEGAKKAN DALIL KEWUJUDAN
ALLAH
Golongan Salaf telah menggunakan dalil – dalil Al – Qur’an sebagai penguat hujah mereka dan cuba mengaitkan beberapa konsep bagi menterjemahkan kewujudan Allah, termasuklah:
*      Fitrah
Allah Taala telah menerangkan mengenai fitrah manusia menerusi firmanNya yang bermaksud ; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama ( Allah ), ( tetaplah atas )fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut firah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus ; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ”                               
                                                                                                                     ( Qs. Ar-Ruum : 30 )
Sabda Rasulullah s.a.w;
“ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”                          ( HR. Al- Bukhari dan Muslim ).
          Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah telah meneliti beberapa pandangan ulama dalam menterjemahkan  makna fitrah, beliau telah bersetuju dengan pandangan ulama yang berpendapat, bahawa fitrah adalah naluri atau pembawaan yang diciptakan bagi setiap anak manusia dalam bentuk pengetahuan tentang Tuhannya.Naluri ini berbeza dengan naluri binatang yang tidak akan sampai kepada pengenalan mengenai Tuhannya.
         Ibnu Taimiyah menjelaskan bahawa fitrah ialah Islam atau agama itu sendiri. Fitrah yang mengharuskan pengakuan adanya Pencipta, cinta kepadaNya, tunduk dan mengikhlaskan agama kepadaNya dan padanya ada suatu kekuatan yang mendorong ke arahnya kerana asal fitrah itu tidak bertentangan dengan syari’at. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “ Fitrah itu terfokus pada pengetahuan tentang Allah , mahabbah ( cinta )kepadaNya, ikhlas keranaNya, pengakuan terhadap syariatNya dan pengutamaanNya dari yang lain.”

*      Ayat  - ayat Kauniyah
Firman Allah Ta’ala, melalui kalamullah, yang bermaksud;
“ Dan di antara tanda – tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ( telah ) menciptakanmu dari tanah , kemudian tiba – tiba kamu ( menjadi ) manusia yang berkembang biak. ”
                                                                                                                 ( Qs. Ar – Ruum : 20 )
“ Tidakkah kamu perhatikan, bahawa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq? Jika Dia menghendaki nescaya Dia membinasakan kamu dan menggantikan( mu ) dengan makhluk yang baru. ”                                                                      ( Qs.  Ibrahim : 19 )                                        
           Ibnu al – Mu’taz berkata di dalam bait – bait syairnya, bagi menerangkan kewujudan Allah, dengan cuba mengaitkan kejadian alam sebagai  ayat – ayat kauniyah menunjukkan bukti kewujudan Penciptanya, yang berbunyi;
Alangkah menghairankan, bagaimana Allah didurhakai,
Dan bagaimana Dia diingkari oleh orang yang ingkar.
Padahal setiap gerakan dan diamnya ciptaan Allah ,
Selalu menjadi saksi adanya Allah.                      
Dan pada setiap sesuatu baginya adalah tanda,
Yang menunjukkan bahawa Dia adalah Satu.
            Alam yang serba indah dan cantik serta semua hidupan yang ada di dalamnya merupakan ayat – ayat kauniyah yang menguatkan hujah bahawa adanya Pencipta yang Maha Sempurna menjadikannya. Mustahil tiada yang mengawalnya melainkan yang maha Bijaksana dan Maha mengetahui mengatur kejadiannya yang seimbang ini.
*      Dalil ‘Inayah
Dalil ‘inayah menjadi suatu dalil yang dipegang oleh golongan ulama, dimana dalil ini termasuk di bawah ayat – ayat yang membuktikan Keesaan Allah Ta’ala.Ada di antara mereka yang berkata, “ Kalau alam ini tidak ada Penciptanya, nescaya ia menjadi yang paling sia – sia. Adakah anda pernah berfikir tentang suatu ciptaan yang ada tanpa pencipta dan tentang atap yang ditinggikan tanpa ada yang mengangkatnya. Maka tidak ada yang mengingkari adanya Pencipta , kecuali kerana kesombongan dan tidak pula mengingkarinya orang yang ingkar , kecuali jiwa – jiwa yang kufur. ”
Disebalik kata – kata ulama tersebut, tersingkaplah pelbagai rahsia yang menghubungkan kepada Pencipta kepada alam ini. Ia selari dengan firman Allah yang banyak ditemui di dalam Kalamullah ini, firmanNya yang bermaksud;
“ Sesungguhnya pada langit dan bumi benar – benar terdapat tanda – tanda ( kekuasaan Allah ) untuk orang – orang yang beriman . Dan pada penciptaanmu dan pada binatang – binatang yang melata yang bertebaran ( di muka bumi ) terdapat tanda – tanda ( Kekuasaan Allah ) untuk kaum yang meyakini , dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda – tanda ( kekuasaan Allah ) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat – ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman sesudah ( kalam ) Allah dan keterangan – keteranganNya. ”
                                                                                                        ( Qs. Al – Jaatsiyah : 3- 6 )
Firman Allah, pada ayat yang lain, ertinya:
“ Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung – gunung sebagai pasak , dan Kami jadikan kamu berpasang – pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk istirehat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangunkan di atasmu tujuh buah ( langit ) yang kukuh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang ( matahari ) dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah , supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji – bijian dan tumbuh – tumbuhan, dan kebun – kebun yang lebat ?”                                                               ( Qs.  An – Naba’ : 6 – 16 )
*      Dalil Mu’jizat
Selain dalil inayah, para ulama telah mengemukakan dalil mu’jizat bagi menguatkan hujah kewujudan Allah sebagai sumber mu’jizat para Nabi dan Rasul yang berperanan menyampaikan kebenaran Islam kepada umat manusia seluruhnya. Menurut al – Qadhi Abu Ya’la, mengatakan bahawa kenabian itu apabila telah tetap ( benar ) adanya melalui tegaknya mu’jizat, tentu kita mengetahui bahawa di sana ada Pengutus yang telah mengutusnya, sebab tidak akan pernah ada seorang Nabi pun kecuali ada yang mengutusnya.”Seterusnya, al – Qadhi mengambil pandangan daripada al – Baihaqi yang mengatakan bahawa metod yang digunakan oleh orang – orang yang terdahulu adalah benar dan terbukti berdasarkan keterangan yang tercatat di dalam al – Qur’an  ( surah Asy – Syu’araa : 16 – 33 )menerusi kisah fir’aun yang mengingkari adanya Allah.
Maka, dengan ketiga – tiga dalil inilah para ulama telah berhujah untuk menjelaskan adanya Allah. Mereka telah cuba mengemukakan dalil – dalil naqli dan menghubungkan pula dengan dalil – dalil aqli  bagi mendatangkan bukti – bukti bagi meyakinkan manusia.Apabila manusia melihat kesan – kesan wujud Allah s..w. t pada keindahan alam, maka akan mendorong kepada mencari Penciptanya.Imam Syafi’i juga adalah sependapat dengan golongan Salaf ini.
4.0 SIFAT – SIFAT WAJIB BAGI ALLAH

Sifat – sifat wajib bagi Allah ada 20 sifat , sepertimana berikut :
1.      Al-Wujud Allah itu diertikan sebagai ada menunjukkan maksud tetap dan benar.
2.      Al-Qidam diertikan sebagai Sedia, dibahagikan pula kepada empat bahagian seperti :
-          Qidam sifati ( Tidak ada permulaan sifat Allah Taala )
-          Qidam dzati ( Tidak ada permulaan dzat Allah Taala )
-          Qidam idhofi ( Terdahulu sesuatu atas sesuatu )
-          Qidam zamani ( Tidak terkait dengan masa )
3.      Al- Baqa’ diertikan sebagai kekal, sentiasa ada dan tiada pengakhiran
4.      Mukhalafatuhu Taala Lilhawadis diertikan sebagai bersalahan Allah dengan yang baru sama ada pada dzat atau sifatNya serta perbuatanNya.
5.      Qiyamuhu Taala Binafsih beerti berdiri  Allah dengan sendiri.
6.      Al-Wahdaniyah  beerti Esa Allah  pada dzat, sifat serta perbuatan.
7.      Al-Qudrah  beerti kuasa Allah itu memberi bekas terhadap mengadakan dan mentiadakan sesuatu.
8.      Al-Iradah beerti menghendaki dengan menentukan sekalian mamkin tentang adanya atau tiadanya.
9.      Al-Ilmu diertikan sebagai mengetahui meliputi tiap-tiap sesuatu sama ada zahir mahu pun batin.
10.  Al-Hayat beerti hidup tanpa nyawa dan nafas serta tidak makan atau minum.
11.  Al-Sama’ beerti mendengar tanpa memerlukan telinga.
12.  Al-Basar beerti melihat tiada dengan mata.
13.  Al-Kalam beerti  berkata- kata tanpa mulut.
14.  Kaunuhu Qadiran beerti keadaan Allah Taala yang Berkuasa.
15.  Kaunuhu Muridan beerti keadaan Allah yang menghendaki dan menentukan tiap – tiap sesuatu.
16.  Kaunuhu ‘Aliman beerti keadaan Allah Taala yang mengetahui akan sesuatu.
17.  Kaunuhu Hayyan beerti keadaan Allah Taala yang hidup.
18.  Kaunuhu Sami’an  beerti keadaan Allah Taala yang mendengan akan sesuatu yang maujud.
19.  Kaunuhu Basiran  beerti keadaan Allah Taala yang melihat akan tiap- tiap yang maujud.
20.  Kaunuhu  Mutakalliman  beerti keadaan Allah Taala yang berkata-kata.
                        
5.0   SIFAT – SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH

Wajib keatas setiap mukalaf mengetahui sifat-sifat mustahil bagi Allah, iaitu sifat-sifat yang berlawanan dengan Sifat wajib bagi Allah, dimana terdapat 20 sifat seperti :
1.      ‘Adam beerti tiada.
2.      Hudus  beerti baru.
3.      Thuruul ‘Adam beerti Fana’
4.      Al-Mumasalatu Lilhawadis beerti bersamaan dengan segala yang baru.
5.      Ihtiyaju ilalghair beerti berhajat kepada yang lainnya.
6.      An layakuna wahidan beerti tiada  ia Esa atau berbilang-bilang.
7.      ‘Ajzun  beerti lemah.
8.      Karahiyah beerti tiada kehendak.
9.      Jahlu beerti tiada mengetahui.
10.  Maut beerti mati.
11.  Shaum beerti pekak.
12.  ‘Amaa  beerti buta.
13.  Al-Bukmu beerti bisu.
14.  Kaunuhu ‘Ajizan beerti Allah itu keadaan yang lemah.
15.  Kaunuhu karihan beerti tidak menghendaki sesuatu kejadian.
16.  Kaunuhu  Jahilan  beerti keadaan yang tiada mengetahui.
17.  Kaunuhu  Mayyitan beerti keadaan yang mati.
18.  Kaunuhu ‘Ashamma beerti keadaan yang pekak.
19.  Kaunuhu  ‘A’maa beerti keadaan yang buta.
20.  Kaunuhu  Abkam beerti keadaan yang kelu.

6.0  SIFAT HARUS BAGI ALLAH
Terdapat satu lagi sifat Allah, iaitu sifat jaiz (harus) kepada Allah. Allah bebas berbuat sekehendak-Nya , dan  manusia tidak boleh mengingkari kehandak Allah. Hal ini, kerana tiap – tiap sesuatu yang wujud di alam ini adalah perbuatan Tuhan.Termasuklah apa sahaja kejadian sama ada baik mahu pun buruk, bermanfaat atau memudaratkan, semuanya adalah harus pada hak Allah, dan tidak boleh mengatakannya tidak baik kerana Tuhan tidak mengambil manfaat terhadap sesuatu  dan tiada memberi mudarat kepadaNya oleh sesuatu.[11]

7.0       MANFAAT BERIMAN KEPADA ALLAH
            Iman yang tertanam dalam diri seseorang hamba atas cetusan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah akan menuntutnya untuk istiqamah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Oleh demikian, akan diperolehi kebahagiaan yang sempurna dan seimbang dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat, baik sebagai individu mahupun masyarakat. Ini adalah jaminan yang diberikan oleh Allah yang dinyatakan di dalam Al- Qur’an, firmannya bermaksud: “ Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik lelaki mahu pun perempuan di dalam keadaan beriman , maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. ”                                                           ( Qs. An – Nahl : 97 )[12]

8.0   PENUTUP

            Beriman kepada Allah s.w.t secara hakikinya ialah mengi’tikadkan dengan keyakinan yang teguh di dalam hati bahawa Allah itu adalah Tuhan yang haq yang kepadaNyalah seluruh makhluk tunduk dan patuh. Beriman kepada Allah meliputi keimanan kepada RububiyahNya  dengan mengakui Allah adalah Khaliq yang Esa berkehendak dalam mengatur, mentadbir, mengawal, memelihara,memusnah dan mengetahui segala rahsia – rahsia alam. Seluruh makhluk khususnya manusia pada hakikatnya adalah bersifat fakir, lemah dan jahil memerlukan qudrat daripada Allah untuk terus hidup, bergerak dan berkembang. Tanpa Allah, seluruh makhluk bagaikan objek yang kaku dan mati serta tidak akan wujud dengan sendirinya kerana wujud makhluk memerlukan kepada wujud Allah sebagai wujud yang Hakiki.
            Beriman kepada Uluhiyyah Allah ialah mengikhlaskan segala bentuk pengabdian dan ibadah hanya kepada Allah sebagai Tuhan, tanpa mensyirikkannya dengan  sesuatu apapun , kerana Allah itu tiada yang setara dan serupa denganNya sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Quran dan hadith. Beriman kepada Asma dan sifat ialah meng’iktikadkan bahawa Allah memiliki nama – nama yang indah yang menggambarkan kesempurnaan dan kebesarannya. Nama – nama ini adalah sebanyak 99 nama untuk diketahui oleh umat Islam bagi mendorong hati untuk mengenali dan sekaligus mencintaiNya. Terdapat 20 sifat wajib bagi Allah serta 20 sifat yang berlawanan dengan sifat wajib tadi. Sementara, terdapat juga sifat yang harus bagi Allah misalnya menjadikan alam adalah sifat yang harus baginya, bukanlah berkewajipan untuknya menjadikan makhluk. Semuanya adalah terserah kepada kehendakNya yang Maha Mencipta.
            Dalam memahami hakikat wujud bagi Allah, memerlukan hujah – hujah akal yang berlandaskan wahyu.Golongan salaf telah mengambil beberapa pendekatan untuk menegakkan hujah mereka iaitu dengan mengaitkan kewujudan Allah dengan fitrah,  mengemukakan dalil Inayah, menyatakan bahawa alam sebagai ayat- ayat kauniyah, serta dalil mukjizat nabi Nabi.
            Justeru, penting untuk kita mengetahui tentang Allah dengan terlebih dahulu kita mengkaji dan merenungkan kejadian diri kita sendiri yang berasal dari nutfah dan melalui pelbagai proses kejadian sehinggalah terbentuklah manusia yang disempurnakan penciptaanNya oleh Allah s.w.t. Apabila kita mengkaji dan melihat dengan pandangan mata hati pada diri kita maka, sedarlah kita betapa halus dan sempurnanya penciptaan manusia itu. Pada kesempurnaan diri manusia itu sebenarnya adalah menunjukkan kesempurnaa Allah yang Maha Bijaksana serta Maha Pemberi Bentuk dan Rupa. Pada diri kita itu tergambar wajah Allah kerana wujud makhluk adalah sebagai bayang – bayang yang wujud kerana adanya tuan punya bayang iaitu Allah. Setelah kita mengenal diri kita, betapa lemahnya kita sehinggakan segala gerak dan daya pada diri kita adalah qudrah Allah, maka lenyaplah segala kesombongan dan keegoan dalam diri yang menganggap bahawa dirinya hebat dan kuat, cantik dan sempurna,  serta bijak dan pandai, sedangkan dirinya itu lemah dan fakir malah tidak memiliki apa –apa melainkan dipinjamkan oleh Allah serta sebagai penzahiran dari sifat Kamalat Allah yang diberikan dengan syarat dan  dengan masa yang terhad di dunia ini.
Allah telah menjelaskan secara jelas di dalam Al-Quran akan tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini dan kita telah mengikat perjanjian denganNya di alam arwah dahulu. Kita mengakui Allah sebagai Tuhan dan akan  mentaatinya.Namun, sejauhmana kita melaksanakan ikrar tersebut di dunia yang realiti ini secara ikhlas mengharapkan keredhaanNya serta mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan Allah di Akhirat kelak.
 Orang yang beriman dengan keimanan yang sebenarnya kepada Allah adalah orang yang sentiasa yakin dengan TuhanNya dengan berpegang teguh di atas kalimah tauhid serta istiqamah dalam ibadah dan sentiasa berwaspada pada setiap gerak dan tindakannya agar tidak terjatuh dari rahmat dan pandangan Allah serta sentiasa bermohon serta bertawakkal kepada Allah dengan perasaan takut terhadap azab Allah di Akhirat.Baginya, cukuplah Allah sebagai penolong untuk menjaganya dari melakukan kezaliman pada dirinya sendiri, yang kelak akan menanggung kerugian dan penyesalan yang besar ketika diri yang begitu kerdil berhadapan dengan Penguasa kepada sekalian makhluk semasa di Akhirat nanti.Mudahan-mudahan kita diselamatkan dari azab neraka  dengan rahmatnya dan dimasukkan ke syurga juga kerana rahmatNya .









9.0   BIBLIOGRAFI

Al- Qur’an al- Karim
Imam Qurthubi, 2007, Tafsir Al- Qurthubi Jilid 1, Jakarta : Pustaka Azzam
Abdul Ghani Yahya & Amar Yusuf, 1952 ,  Risalah Al- Tauhid ,Johor Baharu : Terbitan
            daripada kedua- dua penulis
Abdul Hadi Awang, 2007, Beriman Kepada Allah,Batu Caves : PTS Islamika PTS Publications
            Distributors Sdn. Bhd.
As – Syeikh Abdul Qadir al –Jailani,2008, Sirrul Asrar ,Selangor : Thinkers Library Sdn. Bhd.
Dr. Muhammad AW. Al – Aqil , 2003, Manhaj Aqidah Imam Asy- Syafi’i, Bogor : Pustaka
            Imam asy- Syafi’i.
Dr. Muhammad Naim Yasin, 2001, Iman, Rukun, Hakikat dan Pembatalannya , Kedah : Pustaka
            Darussalam Sdn. Bhd
Haji Said Haji Ibrahim, 1996, Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, Kuala Lumpur : Darul Ma’rifah.
Ibrahim asy-Syathari ( Zawiyah Syeikh Abdul Malik ), 2011, Allah : Syariat & Hakikat Satu
            Penghuraian, Kuala Terengganu : Koperasi Nur Ihsan Terengganu Berhad.
Mohd Nasir Mohd Tap, 2009, Mencarik Ilusi Menggapai Realiti , Wacana Tasawuf, Tarekat &
            Pemikiran Kalam Imam Ahmad Al- Sirhindi.Kajang : Akademi Kajian Ketamadunan
            Kolej Dar Al-Hikmah.
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, 2007, Aqidah Islamiah, Kelantan : Jabatan Hal
            Ehwal Islam.

Rujukan Laman Sesawang
BLOG TAUHID Posted on 20/01/2010 by Al Ustadz Abu Karimah Askari ,Khazanah Ilmu, Dakwah & Jihad